Anak Singa Purba Berusia 28.000 Tahun Membeku Terawetkan Dengan Sempurna di Siberia, Kumisnya Pun Masih Utuh!


8/9/2021

 
Setelah terkubur puluhan ribu tahun di lapisan tanah beku abadi (permafrost) di Siberia, peneliti akhirnya menggali dua anak singa purba yang tersimpan dalam lapisan tersebut.



Tubuh anak singa itu masih utuh, terawetkan dengan baik, sehingga dapat menunjukkan kepada para ahli bagaimana kehidupan singa gua yang telah punah itu. Tim penggalian ini dilakukan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia dan Pusat Paleogenetika di Swedia.

Hasil penggalian kemudian dari dua anak singa yang dijuluki Sparta dan Boris lalu dipublikasikan di jurnal Quaternary. Singa gua yang punah (Panthera spelaea) sendiri adalah spesies terpisah dari singa modern (Panthera leo) yang ditemukan hari ini di sub-Sahara Afrika.

Analisis genetik dari anak singa purba ini menunjukkan dua kerabat menyimpang satu sama lain sekitar 1,9 juta tahun yang lalu. Mengutip IFL Science, Sabtu (7/8/2021) untuk mengetahui dan memahami penampilan fisik singa gua, peneliti sebelumnya menggunakan penggambaran yang terdapat di seni gua.


Selain itu juga membandingkannya dengan singa Afrika. Namun kini dengan berhasilnya penggaliaan anak singa tersebut, tim dapat melakuan analisis terbarunya, memungkinkan memberikan pandangan yang belum pernah terungkap pada spesies ini.

Hal tersebut tak lepas dari fisik anak singa purba yang memang masih terawetkan dengan baik. Peneliti bahkan menyebut, salah satu singa yakni Sparta sebagai hewan Zaman Es terawetkan paling baik yang pernah ditemukan.

Meski sedikit kusut, bulu emas singa hampir sepenuhnya tak rusak, gigi, kulit, jaringan lunak, dan organnya tetap terpelihara. Selanjutnya, analisis studi menemukan bahwa bulu anak singa itu mirip dengan anak singa Afrika modern.

Perbedaan jenis anak singa ini adalah lapisan bulu tebal panjang yang membantu mereka menghadapi cuaca dingin. Lebih lanjut, dua anak singa yang sebelumnya dianggap sebagai saudara kandung ini ternyata tak seinduk.

Penanggalan radiokarbon mengungkapkan bahwa Sparta berusia 27.962 tahun, sedangkan Boris berusia 43.448 tahun. Kedua anak singa itu mati di usia 1-2 bulan. Tidak ada bukti pemangsa bangkai yang merusak sisa-sisa tubuh mereka.


Akan tetapi, peneliti menemukan tengkoraknya retak, tulang rusuk patah, dan tubuh berubah menjadi bentuk yang tak biasa. Dari hasil post-mortem, peneliti menduga jika kedua anak singa ini mati dalam sebuah bencana tanah longsor yang berbeda waktunya.

Singa gua tersebar luas di seluruh Siberia timur pada periode Pleistosen Akhir, tetapi bukti spesies tersebut juga telah ditemukan di sebagian besar Eurasia dan bahkan Amerika Utara di tempat yang saat ini dikenal sebagai Alaska.

Seperti banyak hewan besar dari zaman Pleistosen, singa gua mengalami kepunahan sekitar 14.000 tahun yang lalu selama peristiwa kepunahan besar terakhir di akhir Zaman Es terakhir.

Untungnya, permafrost Siberia yang memiliki suhu di bawah nol memungkinkan spesimen ini untuk tetap berada dalam kondisi yang sangat baik dan memberikan wawasan tentang bagaimana mereka pernah hidup.
SUPPORT US Dukung admin untuk terus berkarya dan selalu membagikan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang banyak.
[Menyalin] kode AMP