Jutaan Anak Terancam Malnutrisi Akibat Pandemi

 

Rasya, saat dirawat di RS Soedarsono Kota Pasuruan tahun 2019 silam. Pandemi Covid-19 yang terjadi berpotensi meningkatkan kasus gizi burukPandemi yang terjadi dipastikan meningkatkan angka malnutrisi pada anak. Butuh strategi khusus untuk mengantisipasinya.

Laporan: Asad AsnawiAUH sebelum pandemi terjadi, Indonesia sudah “bermasalah” dengan nutrisi anak. Laporan Kementerian Kesehatan pada 2018, menyebut 2 juta anak mengalami stunting hingga menempatkannya sebagai negara kelima di dunia dengan jumlah kasus paling banyak.

Pandemi yang berlangsung lebih dari setahun dipastikan akan menambah beban persoalan itu. Nutrisi anak diprediksi akan semakin memburuk imbas makin terbatasnya akses terhadap pangan.Survei daring yang dilakukan Unicef saat awal pandemi lalu menyebut, sebanyak 36 persen responden terpaksa mengurangi porsi makanan untuk bisa bertahan di tengah pandemi.

“Hilangnya pendapatan rumah tangga meningkatkan risiko anak mengalami kurus dan kekurangan gizi mikro,” tulis Unicef dalam laporan berjudul Covid-19 dan Anak-Anak di Indonesia yang dipublikasikan tahun lalu itu.

Kekurangan gizi mikro akan menjadikan anak menyandang status giiz buruk, sebuah sinyal bahaya bagi anak karena dapat menyebabkan kematian. Bahkan, risikonya 12 kali lipat lebih tinggi dibanding anak bergizi baikSri Sukotjo, spesialis gizi dari Unicef Indonesia mengemukakan, pandemi yang terjadi semakin menambah beban Indonesia yang sejak lama bermasalah dengan tiga persoalan gizi. Yakni stunting, wasting, serta kelebihan berat badan.“Pandemi yang terjadi membuat sebagian masyarakat kehilangan pekerjaan. Akibatnya, banyak sekali keluarga yang kesulitan akses terhadap makanan bergizi,” kata Sri Sukotjo, awal Agustus lalu.

Sri bilang, hasil survei yang dilaksanakan saat awal pandemi 2020 lalu mendapati sepertiga dari responden mengurangi variasi dan porsi makanan. Separuh anak remaja bahkan saban hari mengonsumsi mi instan demi menghemat.

“Ada lebih dari 50 persen tidak mengkonsumsi buah-buahan sebagai salah satu sumber nutrisi,” kata Sri. Selain itu, pola pengasuhan oleh para orang tua juga berubah. Termasuk ibu-ibu menyusui. Situasi ini yang pada akhirnya akan membawa dampak turunan pada sang anak.Sri mengakui, pandemi yang terjadi makin menambah tekanan ekonomi pada keluarga rentan. Keamanan pangan rumah tangga terganggu yang pada akhirnya mempengaruhi pola asuh dan asupan gizi yang dibutuhkan.

Pada ibu hamil dan menyusui, ketidakamanan pangan juga berpotensi meningkatkan anemia dan kurangnya berat badan. Padahal, sebagai ibu menyusui, menjaga berat badan dan gizi sangat penting karena dapat menyebabkan berbagai bentuk kekurangan gizi pada anak.

Sayangnya, pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir menyulitkan upaya identifikasi dan perawatan imbas pembatasan jarak. Karena itu, menurut Sri, pemerintah dinilai perlu menyusun strategi guna mengatasi persoalan tersebut.Karena jika tidak, ini akan menjadi sinyal bahaya di masa depan. Ini persoalan serius karena mereka-lah (anak-anak, Red) yang akan mengendalikan bangsa ini,” jelas Sri.

Sistem dan Anggaran Ikut Terganggu

Di sisi lain, ancaman malnutrisi pada anak kian kompleks dengan terganggunya sistem kesehatan. Baik dari sisi layanan maupun anggaran.

Penelitian yang dilakukan Unicef mendapati hanya sepertiga anak berusia 0-23 bulan yang melakukan timbang berat badan pada periode Maret-Juni 2020. Selain itu, tak sampai 50 persen ibu-ibu mendapat layanan konseling.Dari sisi anggaran pun demikian. Sekitar 73,6 persen Dinas Kesehatan mengalihkan anggaran gizinya untuk membantu penanganan Covid-19. Sedangkan 23,7 persen, masih tetap mengalokasikan.

“Kalau pun anggarannya ada, petugasnya yang tidak memadai karena 79,2 persen tenaga gizinya dialihkan untuk membantu penanganan pandemi,” terang Sri.

Mahmud Fauzi, staf Kementerian Kesehatan Bidang Gizi Masyarakat mengakui pandemi yang terjadi akan meningkatkan angka malnutrisi di secara massif. Ekonomi yang terganggu menjadi penyebabnya.Hasil kajian oleh Kemenkes ditemukan, sebanyak 17 persen rumah tangga menurunkan bujet pengeluaran akibat pandemi. Lebih dari 27 persen bahkan mengurangi pengeluaran hingga 50 persen. “Daya beli turun, termasuk membeli makanan sehat bergizi,” kata Mahmud.Pandemi yang terjadi kian menyulitikan kegiatan pemantauan tumbuh kembang anak secara langsung. Mahmud mengatakan, sebelum pandemi, rata-rata tingkat kunjungan ke Posyandu mencapai 73,6 persen. Saat ini, turun menjadi 63 persen.

Sebagai instrumen pemantauan tumbuh kembang anak, kegiatan Posyandu sangat penting. Akan tetapi, badai Covid-19 menjadikkegiatan ini banyak berkurang demi Data infocovid-19.go.id., per 6 Agustus lalu, dari 3,6 juta kasus positif yang ada, 2,9 persen merupakan anak-anak dengan rentang usia 0-5 tahun dan 8,9 persen untuk usia 6-18 tahun.

Berbagai situasi itu dipastikan turut menambah beban tiga masalah gizi anak secara signifikan. Angka stunting yang sebelumnya pandemi mencapai 2 juta anak atau 30,5 persen diperkirakan akan meningkat

Begitu juga dengan kasus wasting yang sebelumnya tercatat sebesar 10,2 persen; dan overweight 8 persen. “Kumungkinan naik 15 persen atau 7 juta anak di dunia mengalami wasting di tahun pertama Pandemi,” terang Mahmud.Di beberapa daerah, kegiatan pemantauan dilakukan secara door to door dengan melibatkan kader kesehatan setempat. Namun, daerah yang memiliki topografi berat, kegiatan tersebut jelas menyulitkan.Sebagai antisipasi, Mahmud mendorong agar otoritas kesehatan setempat membuat inovasi supaya kegiatan edukasi tetap bisa berjalan di tengah pandemi. Caranya, dengan memanfaatkan teknologi digital yang ada.

“Kami juga menyebar booklet-booklet digital supaya bisa dipelajari secara dan juga melibatkan multipihak guna mendukung kegiatan e-tele edukasi dan e-conseling,” jelas Mahmud.Selain itu, pihaknya kini juga tengah menyusun materi menu makanan berbahan lokal yang bisa didistribusikan secara digital. Penggunaan bahan lokal dipilih dengan maksud memudahkan akses bagi masyarakat pedesaan.

Pasalnya, dari jutaan kasus malnutrisi di Indonesia, didominasi masyarakat pedesaan. Misalnya, asupan makanan energi dengan perbandingan 52,9:51,9 persen. Begitu juga dengan kekurangan protein, 55,7 tinggal di pedesaan, 49, 6 adalah masyarakat perkotaan.Ahli Gizi Masyarakat, dr. Tan Shot Yen mengatakan, terlepas dari situasi saat yang masih pandemi, harus diakui kesadaran gizi oleh masyarakat Indonesia masih rendah. Hal itu didasarkan pada rerata konsumsi dan pengeluaran per kapita penduduk Indonesia.

Merujuk data yang dirilis BPS, kata dr. Tan, makanan dan minuman jadi menjadi urutan pertama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia (35 persen). Disusul rokok dan padi-padian yang masing-masing sebesar 12,3 persen dan 11,3 persen.Ikan dan sayuran yang merupakan sumber nutrisi hanya 7,9 persen dan 6,6 persen. Sedangkan telur dan susu 5,7 persen. Sementara buah-buahan dan umbi-umbian, masing-masing sebesar 4,8 dan 1 persen.

“Ini menunjukkan bahwa kesadaran untuk mengonsumsi makanan yang sehat masyarakat Indonesia masih rendah. Makan yang penting kenyang, bukan melihat kebutuhan nutrisinya,” kata dr. Tan.Tan bilang, meningkatkan literasi menjadi salah satu kunci meningkatkan standar gizi anak di Indonesia. Terutama yang berkaitan dengan produk-produk atau bahan makanan yang banyak mengandung nutrisi.

Dikatakan Tan, bicara makanan yang sehat dan kaya akan nutrisi, tak harus mahal. Bahkan, desa dengan beragam potensinya, memiliki banyak produk dan bahan makanan sehat yang relatif terjangkau dan mudah didapat.

“Masalahnya, masyarakat kita lebih mudah termakan dengan iklan-iklan produk makanan atau minuman yang banyak dipromosikan. Padahal di sekitar rumah banyak yang lebih bergizi,” jelas Tan. (*)

SUPPORT US Dukung admin untuk terus berkarya dan selalu membagikan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang banyak.
[Menyalin] kode AMP